Pendidikan di Bawah Kendali Prompt AI

Dipublikasikan pada 25 Juni 2026 oleh Hafid Nafi Rozzaki
Pendidikan di Bawah Kendali Prompt AI

pinterest.com

Munculnya Artificial Inteligence (AI) memiliki dampak yang signifikan terhadap cara belajar, terutama bagi Mahasiswa. Dampak yang dirasakan cenderung terlihat baik, misalnya munculnya AI dapat membantu mahasiswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dosen dengan cepat, secepat yang diharapkan. Tidak sampai berjam-jam, tugas itu akan benar-benar selesai dan siap dikumpulkan.

Alhasil mahasiswa tidak perlu lagi mengenal apa itu membaca referensi, menganalisis dan memahami tugas apa yang akan dibuat. Riset? menjadi kata yang tidak familiar di kalangan mahasiswa, karena semua dapat diselesaikan oleh AI. Mahasiswa hanya perlu mengirimkan kata atau prompt apa yang cocok, agar AI menyelesaikan tugasnya sebagaimana yang diharapkan.

Merosotnya Minat Baca Buku

Fenomena ini tidak datang dari asumsi penulis, melainkan hasil realitas di lapangan. Melalui riset mandiri yang penulis lakukan terhadap sekitar 80 mahasiswa dari berbagai universitas di Semarang, penulis menemukan fakta yang mengkhawatirkan. Ketika diajukan pertanyaan mengenai buku apa yang sedang mereka baca atau kapan terakhir kali mereka menamatkan sebuah buku, hampir seluruh responden gagal memberikan jawaban konkret.

Hanya sebagian kecil dalam hitungan jari yang masih aktif membaca. Ironisnya, ketika ditanya mengenai metodologi penyusunan tugas kuliah, mayoritas mengaku menggunakan jurnal ilmiah. Namun, saat ditanya lebih dalam apakah mereka benar-benar membaca jurnal tersebut, jawaban seragam pun muncul: "Sudah disediakan dan dirangkum oleh ChatGPT."

Penelitian ini penulis lakukan hanya untuk memastikan bagaimana ketergantungan seseorang dengan AI. Realitas ini memperlihatkan bahwa di mata mahasiswa sekarang, buku dan teks panjang kehilangan relevansinya karena seluruh informasi dianggap sudah dapat disediakan oleh AI.

Ironi Pendidikan Tinggi di Era AI

Kehadiran Generative AI di ranah akademik tidak hanya mengikis ketahanan mahasiswa dalam membaca teks panjang, melainkan juga melumpuhkan kemampuan otak mereka untuk merekam informasi yang mereka hasilkan sendiri. Hal ini divalidasi oleh studi dari MIT Media Lab yang dirilis Juni 2025, yang menemukan fakta bahwa sebanyak 83,3% pengguna ChatGPT tidak mampu mengingat atau mengutip kembali isi esai yang baru saja dibuat oleh AI atas nama mereka beberapa menit sebelumnya.

Hal tersebut dampak dari berkurangnya intensitas membaca mendalam yang membuat mahasiswa kehilangan daya kritis dalam memahami sesuatu, sebuah fenomena yang tergambar dalam riset gabungan Microsoft dan Carnegie Mellon yang menunjukkan bahwa 64% pekerja pengetahuan menerima begitu saja apa pun yang disajikan oleh AI tanpa proses verifikasi.

Ketergantungan ini berbanding terbalik dengan kemampuan berpikir mandiri. Melalui fenomena “cognitive offloading”, otak manusia secara alami akan melupakan informasi yang dapat ditemukan kembali secara online. Jika aktivitas membaca aktif digantikan oleh budaya membaca ringkasan AI, mahasiswa tidak lagi melatih otot kognitifnya untuk mendeteksi bias atau memahami sesuatu, melainkan berubah menjadi konsumen pasif yang sepenuhnya bersandar pada memori digital mesin.

Model Pendidikan ala Jepang

Tidak dapat dipungkiri AI berkembang dengan cepat, pada era ini menjadikan metode pendidikan dengan cara menghafal fakta sudah tidak lagi relevan. Tugas menghafal telah ditangani oleh AI. Di tengah berkembangnya peran AI, Kementerian Jepang menggagas konsep Society 5.0. Konsep ini menyiapkan siswa menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat, dengan fokus pada kekuatan manusia dan nilai kemanusiaan.

Pendidikan ditekankan pada keterampilan hidup seperti komunikasi, dan yang paling penting adalah kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan membaca dalam hal ini, konteksnya bukan hanya dalam rangka memberantas buta huruf, melainkan meningkatkan kemampuan literasi. Yang dimaksud kemampuan literasi di sini, adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki siswa untuk memproses dan memahami berbagai sumber informasi secara efektif.

Hal ini melibatkan proses penggalian pemahaman informasi dari teks dan mengkomunikasikan pesan yang diperoleh melalui bahasa tertulis. Selain itu, tujuan dari konsep tersebut adalah membekali siswa dapat belajar lebih jauh lagi secara mandiri, di tengah tantangan yang muncul di masa mendatang.

Rekomendasi

Ada berbagai cara yang dapat dilakukan oleh institusi pendidikan untuk tetap memiliki peran yang dominan di era AI. Pertama, kembali libatkan buku fisik dalam pembelajaran, dalam hal ini bukan berati mendiskreditkan e-book atau buku digital, buku fisik lebih berperan dalam menjaga fokus pembaca, karena pembaca akan jauh dari notifikasi-notifikasi yang masuk apabila membaca lewat buku digital (setidaknya ini hasil dari pengalaman penulis).

Beri mahasiswa pertanyaan analisis, alih-alih tugas-tugas yang bersifat teoritis atau hafalan. Pastikan mahasiswa memahami apa yang dia tulis, setidaknya pada saat mahasiswa melakukan presentasi.

Pada akhirnya, catatan kritis ini lahir bukan dari sentimen antipati terhadap teknologi. Penulis sendiri merupakan pengguna AI aktif yang merasakan efisiensinya. Namun, tulisan ini adalah pengingat bahwa secanggih apa pun teknologi bergerak, ia harus tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar kritis manusia.

Sumber

Novansius Putra Cu Leban, dkk. (2025). Meningkatkan kemampuan membaca siswa melalui gerakan literasi di UPTD SMP Negeri 5 Kupang. Jurnal JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan), 5(1), 225-230. https://doi.org/10.59818/jpm.v5i1.1198

Alex Goryachev. (2025, Juni). MIT Study: 83% of AI Users Can't Remember Their Own Writing. https://thedeanofai.com/p/ai-users-cant-remember

Dandhy Laksono, dkk. (2025). Reset Indonesia. (Bekasi: Koperasi Indonesia Baru)

H

Hafid Nafi Rozzaki

Orang Hukum yang Lumayan yang melek pendidikan