Senyapnya Suara Kritis Di Momen Hari Raya

Dipublikasikan pada 24 Maret 2026 oleh Satria Kusuma Wardhana
Senyapnya Suara Kritis Di Momen Hari Raya

Sumber: Pinterest.com

Setiap tahun, Indonesia merayakan Idulfitri dengan gelombang kebersamaan yang luar biasa, di mana jutaan ucapan maaf memenuhi media sosial dan foto keluarga yang bahagia mendominasi linimasa. Data tahun 2026 bahkan mencatat pergerakan manusia mencapai lebih dari 143 juta perjalanan, sebuah mobilisasi massa yang menempatkan hampir separuh penduduk negeri ini dalam keriuhan sukacita.

Namun, di balik kemeriahan yang spektakuler itu, ada sebuah kesunyian yang ganjil: kritik publik yang biasanya tajam mendadak senyap, seolah-olah menyuarakan persoalan bangsa dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan di hari raya.

Perspektif Ruang Publik dan Demokrasi

Kadir (2022) dalam jurnal RESIPROKAL mengingatkan bahwa ruang publik yang sehat mensyaratkan warga yang aktif mendiskusikan isu-isu publik secara kritis dan rasional. Merujuk gagasan Habermas, Kadir menegaskan bahwa ruang publik demokratis adalah domain diskursus yang bebas dari intervensi logika kekuasaan dan ekonomi.

Persoalannya, Hari Raya Idulfitri di Indonesia tidak sekadar merupakan ritual spiritual, melainkan menjelma menjadi peristiwa budaya-politik tahunan yang masif. Momen ini memiliki dimensi solidaritas sosial yang sangat kuat, dan solidaritas itu kerap dimaknai sebagai keharusan untuk tidak merusak suasana. Ketika logika itu mengisi ruang publik, maka yang terjadi adalah pembekuan sementara terhadap fungsi pengawasan masyarakat yang menjadi prasyarat demokrasi.

Pola Kebijakan di Momentum Lebaran

Pengamatan terhadap kalender legislatif dan kebijakan publik Indonesia menunjukkan kecenderungan berulang. Sejumlah regulasi kontroversial, keputusan anggaran, maupun manuver politik kerap dieksekusi atau diloloskan pada periode H-7 hingga H+7 Lebaran, ketika perhatian publik sedang terpecah antara mudik, belanja, dan reuni keluarga.

Nurfitriani, Maulana, dan Muhaimin (2025) dalam eksplorasi bibliometrik mereka tentang media sosial dan perkembangan demokrasi Indonesia, menyimpulkan bahwa peningkatan partisipasi di media sosial tidak serta-merta mendorong demokratisasi yang substantif, karena kalangan elit juga mampu melakukan inovasi-inovasi yang justru membatasi partisipasi warga dan munculnya kekuatan alternatif. Ketika kapasitas pengawasan publik sedang melemah akibat pengalihan musiman, ruang bagi elite untuk memperluas keleluasaannya menjadi lebih terbuka.

Peran Algoritma Platform Digital

Platform digital memainkan peran yang krusial dalam mengkurasi kesunyian ini. Aryantini dkk. (2024) dalam kajian mereka tentang peran media sosial pada kampanye Pemilu 2024 menegaskan bahwa algoritma platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan emosional.

Pada momen Lebaran, algoritma ini secara aktif mempromosikan konten perayaan, ucapan selamat, foto keluarga, konten hiburan ringan, dan iklan yang membangkitkan kehangatan. Konten kritis dan analitis terdorong ke bawah secara sistematis.

Kajian terbaru tentang algoritma media sosial dan polarisasi politik di Indonesia (2025) juga menyimpulkan bahwa ketika ruang publik digital didominasi oleh algoritma yang memperkuat konten emosional tertentu, maka fungsi keterlibatan masyarakat dalam demokrasi berpotensi mengalami penurunan.

Dengan kata lain, senyapnya kritik pada momen Lebaran bukan hanya soal pilihan individu untuk beristirahat, namun adalah produk dari arsitektur platform yang memang tidak dirancang untuk menyuburkan penalaran kritis.

Jeda Personal vs Kesunyian Struktural

Manusia membutuhkan jeda, memilih tidak bersuara untuk menjalankan fungsi pengawasan dalam berdemokrasi, selama beberapa hari adalah hak setiap orang dan terjamin keberadaannya. Kodoati dan Maida (2023) dalam kajiannya yang mengangkat konsep "defisit kritis media massa", memperingatkan bahwa kejenuhan terhadap konten politik yang berlebihan dapat menurunkan kualitas diskursus publik.

Dalam kerangka ini, jeda Lebaran bisa dibaca sebagai jeda yang diperlukan. Namun ada perbedaan penting yang perlu ditegaskan, antara jeda personal yang dipilih secara sadar dan melembagakan kesunyian kritik yang bekerja secara struktural. Yang perlu dikritisi bukan individu yang memilih beristirahat dari kebisingan berita, melainkan sistem yang secara aktif memanfaatkan momen itu untuk melaju tanpa pengawasan yang memadai.

Refleksi Demokrasi dan Kesadaran Publik

Hari Raya adalah pencapaian peradaban yang patut dirayakan sepenuh hati untuk menyimpan nilai spiritualitas, solidaritas, dan kemanusiaan yang tidak ternilai. Namun demokrasi yang sehat mensyaratkan warga yang tidak pernah sepenuhnya mematikan fungsi pengawasannya. Merayakan dengan sukacita dan tetap waspada terhadap jalannya kekuasaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, namun justru di situlah letak kedewasaan berdemokrasi. Kritik bukan lawan dari syukur, tetapi bukti bahwa kita peduli!

Sumber

Aryantini, P.T., Pramana, G.I., Erviantono, T., & Duarte, E.F.B. (2024). Peran Media Sosial dalam Pembentukan Opini Publik Politik: Studi Kasus Kampanye Pemilu 2024. Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 5(5), 81–90. https://doi.org/10.6578/triwikrama.v5i5.6910

Bakti, I.S., Nirzalin, N., & Alwi, A. (2019). Konsumerisme dalam Perspektif Jean Baudrillard. Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 13(2), 147–166. https://doi.org/10.24815/jsu.v13i2.15925

Kadir, N. (2022). Media Sosial dan Politik Partisipatif: Suatu Kajian Ruang Publik, Demokrasi Bagi Kaum Milenial dan Gen Z. RESIPROKAL: Jurnal Riset Sosiologi Progresif Aktual, 4(2), 180–197. https://doi.org/10.29303/resiprokal.v4i2.225

Khasanah, I.L., & Wawuan, F.Z. (2023). Polarisasi Politik dan Rekonsiliasi Melalui Halal Bihalal. Jurnal Ilmu Muqoddimah, 7, 423–435.

Kodoati, M., & Maida, S. (2023). Defisit Kritis Media Massa: Menimbang Kebutuhan akan Regulasi Diri Media Massa Berdasarkan Pemikiran Jürgen Habermas. Dialektika Komunika: Jurnal Kajian Komunikasi dan Pembangunan Daerah, 11(1), 26–41.

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (2024). Laporan Pemantauan Pergerakan Masyarakat Periode Ramadan–Idulfitri 1445 H. Jakarta: Kementerian Perhubungan RI.

Nurfitriani, I., Maulana, I., & Muhaimin, R. (2025). Media Sosial dan Perkembangan Demokrasi di Indonesia: Sebuah Eksplorasi Bibliometrik. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 26(1). https://doi.org/10.55981.2024.14021

Usman, F., Pratama, R., & Hidayat, T. (2025). Algoritma Media Sosial dan Polarisasi Politik: Tantangan Demokrasi Digital di Indonesia. Jurnal Sosial Politik (JSP), Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, 4(1).

Satria Kusuma Wardhana

Satria Kusuma Wardhana

Mahasiswa Hukum UIN Walisongo